Nama :
Salsabila
Nim : 11901229
Kelas : 4 C
Mata Kuliyah : Magang 1
KURIKULUM
A.
Pengertian
Kurikulum
Yunani
berasal dari bahasa Yunani, yaitu cucere yang berubah menjadi kata benda
curriculum. Jamaknya kurikulum pertama kali dipakai dalam dunia atletik.
Di dalam dunia atletik, kurikulum diartikan (a race course, a place for
running a chariot ) yang berarti Suatu jarak untuk perlombaan yang harus
ditempuh oleh seorang pelari. Sedangkan a chariot diartikan
semacam kereta pacu pada zaman dahulu, yakni suatu alat yang membawa seseorang
dari start sampai finish.
Kurikulum
dipakai juga dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, kurikulum
mempunyai arti sebagai berikut:
a.
Kurikulum Dalam
Arti Sempit Atau Tradisional
Kurikulum
sebagai (a course, esp. A specific fixed course of study, as in school or
college, as one leading to a degree) yang artinya kurikulum sebagai
sejumlah mata pelajaran disekolah atau di perguruan tinggi yang harus ditempuh
untuk mendapatkan ijazah dan naik tingkat. Carter V. Good mengemukakan
pengertian kurikulum ialah sekumpulan mata pelajaran yang bersifat sistematis
yang diperlukan untuk lulus atau mendapatkan ijazah dalam bidang studi pokok
tertentu.
Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang
disajikan guru kepada siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat.
Pengertian kurikulum ini, saat sekarang, sama dengan “rencana pelajaran di
sekolah, yang disajikan guru kepada murid.”
b.
Kurikulum Dalam
Arti Luas Atau Modern
Kurikulum
mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas dalam pengertian ini, jadi bukan
sekedar sejumlah mata pelajaran. Ronald Doll mengemukakan bahwa kurikulum
adalah meliputi semua pengalaman yang disajikan kepada murid dibawah bantuan
atau bimbingan sekolah. Horald Spears memberi batasan kurikulum, bahwa
kurikulum tersusun dari semua mengalaman murid yang bersifat aktual dibawah
bimbingan sekolah, mata pelajaran yang ada hanya sebagian kecil dari program
kurikulum.
Dari pendapat
diatas dapat disimpulkan, kurikulum adalah semua pengalaman, kegiatan, dan
pengetahuan murid dibawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau guru.
Pengertian
kurikulum ini memberikan implikasi pada program sekolah bahwa semua kegiatan
yang dilakukan murid dapat memberikan pengalaman belajar. Kegiatan-kegiatan
tersebut dapat meliputi kegiatan didalam kelas. Misalnya, kegiatan dalam
mengikuti proses belajar mengajar (tatap muka), praktek keterampilan, dan
sejenisnya, atau kegiatan diluar kelas, seperti kegiatan pramuka, wisata karya,
kunjungan ketempat-tempat wisata /sejarah, peringatan hari-hari besar nasional
dan keagamaan, dan sejenisnya.
B.
Asas-Asas
Kurukulum
Asas
merupakan prinsip dasar atau landasan
pijakan kurikulum. Dengan adanya asas, kurikulum mempunyai kerangka yang
jelas untuk mencapai tujuan pendidikan. Asas- asas kurikulum cukup kompleks dan
mengandung hal-hal yang saling bertentangan, sehingga harus diadakan pilihan.
Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu, yaitu:
a.
Asas
Filosofis
Filsafat
sering disebut sebagai mother of knowledge, karena filsafat sangat
penting dalam setiap ilmu, tanpa terkecuali kurikulum. Filsafat dapt diartikan
sebagai upaya berfikir sedalam-dalam nya, yakni sampai ke akar-akarnya tentang
hakikat sesuatu. Secara akademik, filsafat yaitu upaya menggambarkan dan
menyatakan suatu pandangan yang bersifat sistematis dan komprehensif tentang
alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.
Filsafat
membahas permasalahan yang dihadapi manusia, termasuk masalah-masalah pendidikan
yang biasa disebut dengan filsafat pendidikan. Menurut Ronald Butler, filsafat
memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik
pendidikan memberikan bahan-bahan pertimbangan filosofis.
Pertamyaan-pertanyaan
seperti “Pendidikan berintikan interaksi manusia terurama antara pendidik dan
yang terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan, siapa pendidik dan siapa
terdidik, apa isi pendidik dan bagaimana proses interaksi pendidik. Merupakan pertanyaan
yang harus dijawab secara mendasar, tidak ada jawaban yang tepat kecuali yang
esensial dan filosofis.
b.
Asas
Sosiologis
Menyiapkan
anak untuk kehidupan dalam bermasyarakat, termasuk dalam pendidikan, jadi tidak
semua pendidikan hanya untuk pendidikan. Sebagaimana diketahui, bahwa sosiologi
merupakan landasan yang berhubungan dengan institusi pendidikan dan masyarakat.
Sebagai generasi muda perlu mengenal dan memahami apa yang ada dalam
masyarakat, memiliki kecakapan-kecakapan untuk dapat berpartisipasi dalam
masyarakat, baik secara warga maupun karyawan.
Dari
segi sosiologis sistem pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan di dalamnya
sebagai badan yang berfungsi bagi kepentingan masyarakat sebagai berikut:
1)
Mengadakan
perbaikan atau perombakan sosial.
2)
Mempertahankan
kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.
3)
Mendukung dan
turut memberi sumbangan kepada pembangunan nasional.
4)
Menyampaikan
kebudayaan dan nilai-nilai tradisional serta mempertahankan status quo.
5)
Mewujudkan
revolusi sosial untuk melenyapkan pengaruh pemerintah terdahulu.
6)
Mengarahkan
dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.
7)
Mendorong dan
mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
8)
Mendidik
generasi muda menjadi warga Negara nasional dan warga dunia.
9)
Membangun
ktrampilan dasar yang bertalian dengan mata pencarian.
Masyarakat
merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam pengembang kurikulum, maka
masyarakat tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab itu landasan sangat
dipentingkan.
c.
Asas
Psikologis
Dalam
proses pendidikan terjadi interaksi antar individu manusia, yaitu antar peserta
disik dengan orang-orang yang lainnya, seperti guru atau dosen, kepala sekolah
atau dekan dan sebagainya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena
kondisi psikologisnya.
Kondisi
psikologis manusia jauh lebih kompleks dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan.
Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko fisik seseorang sebagai
individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan
lingkungannya. Prilaku tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri
kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Ada
2 bidang psikologi yang mendasari kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan
psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan dalam memilih, menerapkan metode
pembelajaran serta tehnik-tehnik penilaian.
1)
Psikologi
Perkembangan
Psikologi perkembangan membahas
perkembangan individu sejak masa pertemuan sperma dengan sel telur sampai
dengan dewasa yang disebut masa Konsepsi. Dapat dilihat, bahwasanya psikologi
perkembangan terkait dengan perkembangan anak atau peserta didik, juga termasuk
di dalamnya adalah minat peserta didik. Dengan memperhatikan hal-hal itulah,
kurikulum disusun agar lebih mudah diterima.
2)
Psikologi
Belajar
Psikologi belajar merupakan suatu studi
tentang bagaimana individu belajar. Secara sederhana, belajar dapat diartikan
sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala bentuk
perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif, dan psikomotorik
yang terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku
belajar.
Belajar adalah suatu proses yang sangat
kompleks dan pelik, oleh sebab itu, maka timbul lah berbagai teori belajar yang
menunjukkan ketidaksesuaian antara satu sama lainnya.
Pada dasarnya setiap teori belajar
mempunyai kebenaran. Tetapi tidak memungkinkan sebuah teori dapat memberikan
gambaran yang gamblang mengenai proses pendidikan yang termudah sampai yang
paling pelik mengenai proses belajar.
Teori belajar menjadi dasar bagi proses
belajar-mengajar. Dengan demikian ada hubungan antara kurikulum dan psikologi
belajar serta psikologi perkembangan.
d.
Asas
Organisatoris
Asas
ini berkenaan dengan masalah, dalam bentuk dan bagaimana bahan pelajaran akan
disajikan. Ada beberapa kriteria dalam penentuan kurikulum yakni kegunaan
kurikulum dalam menafsirkan, memahami, dan menilai kehidupan, memuaskan minat
dan kebutuhan peserta didik, mengembangkan kemampuan, sikap dan sebagainya yang
dipandang bermanfaat serta sesuai dengan bidang dan mata pelajaran tertentu. Dalam
organisasi kurikulum ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yakni scope
atau yang disebut juga dengan ruang lingkup, yakni keseluruhan materi pelajaran
dan pengalaman yang akan diberikan dari suatu bidang studi mata pelajaran.
Urutan penyusunan bahan pelajaran atau disebut dengan sequence, yaitu
penyusunan bahan pelajaran menurut aturan tertentu secara berurutan dan sistematis.
Terakhir adalah penempatan bahan atau disebut dengan grade plecement,
yaitu penempatan suatu atau beberapa bahan pelajaran untuk kelas tertentu.
Seperti apa kurikulum yang dipilih oleh sebuah instansi pendidikan sangat
tergantung pada asas-asas diatas, karena setiap institusi mempunyai visi dan
misi tersendiri.
C.
Konsep
Kurikulum
Konsep
Kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan,
juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.
Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang
harus disampaikan guru atau dipelajari siswa. Anggapan ini telah ada sejak
zaman Yunani kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih
dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “... a racecource of
subject matters to be mastered”. Kurikulum akan memberikan jawaban sekitar
bidang studi atau mata-mata pelajaran. Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan
hanya sebagai isi pelajaran.
Pendapat-pendapat
yang muncul selanjutnya telah beralih dari menekankan pada isi menjadi lebih
memberikan tekanan pada pengalaman belajar. Kurikulum tidak hanya menunjukkan
adanya perubahan lingkup, dari konsep yang sangat sempit kepada yang lebih
luas. Apa yang dimaksud dengan pengalaman siswa yang diarahkan atau menjadi
tanggung jawab sekolah mengandung makna yang cukup luas. Pengalaman tersebut
dapat berlangsung disekolah, dirumah ataupun dimasyarakat, bersama guru atau
tanpa guru, berkenaan langsung dengan pelajaran ataupun tidak. Definisi
tersebut juga mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya
pengalaman tersebut serta berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya
pengalamn tersebut serta berbagai fasilitas yang mendukungnya
Kurikulum juga
sering dibedakan antara kurikulum curriculum plan yang berarti sebagai
rencana, dengan functioning curriculum yang berarti kurikulum yang
fungsional. Suatu kurikulum, apakah itu kurikulum pendidikan dasar, pendidikan
menengah atau pendidikan tinggi; kurikulum sekolah umum, kejuruan, dan
lain-lain merupakan perwujudan atau penerapan teori-teori kurikulum. Teori-teori
tersebut merupakan hasil pengkajian, penelitian, dan pengembangan para ahli
kurikulum. Kumpulan teori-teori kurikulum membentuk suatu ilmu atau bidang
studi kurikulum. Bidang cakupan teori atau bidang studi kurikulum meliputi:
konsep kurikulum, penentuan kurikulum, pengembangan kurikulum, desain
kurikulum, implementasi dan evaluasi kurikulum.
Selain sebagai
bidang studi, kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu
sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan. Kurikulum
sebagai suatu rencana pengajaran, berisi tujuan yang ingin dicapai, bahan yang
akan disajikan, kegiatan pengajaran, alat-alat pengajaran dan jadwal waktu
pengajaran. Sebagai suatu sistem, kurikulum merupakan bagian atau subsistem
dari keseluruhan kerangka organisasi sekolah atau sistem sekolah. Kurikulum
sebagai suatu sistem menyangkut penentuan segala kebijakan tentang kurikulum,
susunan personalia dan prosedur pengembangan kurikulum, penerapan, evaluasi,
dan penyempurnaannya. Fungsi utama sistem kurikulum adalah dalam pengembangan,
penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya, baik sebagai dokumen tertulis maupun
aplikasinya dan menjaga agar kurikulum tetap dinamis.
DAFTAR PUSTAKA
http://digilib.uinsby.ac.id/10891/6/bab2.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar