Nama :
Salsabila
Nim : 11901229
Kelas : 4 C
Mata Kuliyah : Magang 1
STRATEGI
PEMBELAJARAN
Strategi
pembelajaran atau dalam bahasa Inggris disebut dengan teaching strategy
merupakan suatu tindakan dari seorang guru dalam melaksanakan rencana
pembelajaran, yang artinya guru memiliki peran sebagai seorang pendidik dan
fasilitator yang mampu menganalisis masalah-masalah dalam pembelajaran, agar
dapat menemukan berbagai inovasi serta dapat meningkatkan kegiatan kualitas
belajar mengajar dengan menggunakan beberapa variabel pembelajaran agar dapat
membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Selain itu, pengertian
strategi pembelajaran juga dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu :
1)
Dick dan
Carey (1990) mengatakan Arti strategi Pembelajaran terdiri atas seluruh
komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang
digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran bukan hanya sebatas pada prosedur
atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi
atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
2)
Syaiful
Bahri dan Aswan Zain (1995) Pengertian strategi pembelajaran adalah sebagai
pola-pola umum kegiatan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan belajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan
3)
Suparman
(1997) menegaskan bahwa Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan
kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan
bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditentukan
4)
Cropper
(1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai
jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai.
5)
Sanjaya,
Wina (2007) menjelaskan Strategi pembelajaran merupakan pola umum perbuatan
guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar.
Strategi
pembelajaran juga terdiri dari beberapa metode dan teknik (prosedur) yang akan
menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode
dan teknik sering digunakan secara bergantian.
Mengutip Gerlach
& Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang-kadang disebut metode)
dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Teknik adalah jalan atau alat
(way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke
arah tujuan yang akan dicapai. Sedangkan Metode, menurut Winarno Surakhmad
(1986) adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu
tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa
(metode belajar). Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat
implementatif, maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi
(dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Dalam mengatur strategi, guru dapat
memilih berbagai metode, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, dan
demonstrasi. Berbagai media, seperti film, VCD, kaset audio, dan gambar, dapat
digunakan sebagai bagian dari teknik-teknik yang dipilih oleh guru.
Metode pembejaran
yang bisa dipilih dari konsep strategi pembelajaran adalah Ceramah, Diskusi
kelompok, Demonstrasi , Simulasi, Pengalaman lapangan, Mind Mapping, Drama, dan
lain-lain.
Dalam kurikulum
2013 strategi pembelajaran atau model pembelajaran ada 5, yaitu :
1.
Strategi
discovery Learning (DL) (Menyingkap Pembelajaran) ialah metode mengajar yang
mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang
sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau
seluruhnya ditemukan sendiri.
2.
Strategi
inkuiri Learning (IL) (Penyelidikan Pembelajaran) menurut Piaget (Sund dan
Trowbridge, 1973) strategu ini sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi
bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa
yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan
mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu
dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang
ditemukan orang lain.
3.
Strategi
Problem Based Learning (PBL) (Pembelajaran berbasis masalah) menurut duch
(1995) metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai
konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan
memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan.
4.
Strategi
Project Based Learning (PBL) (Pembelajaran Berbasis proyek) ialah pembelajaran
yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan
eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan
berbagai bentuk hasil belajar
5.
Strategi
Saintifik Learning (SL) ( Pembelajaran Ilmiah) ialah Proses pembelajaran yang
dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep,
hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi
atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Dalam
mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003)
mengetengahkan lima strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan
Kurikukum Berbasis Kompetensi, yaitu :
1.
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan
konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran
dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peran guru
sebagai fasilitator yang menyediakan sarana atau sumber bahan ajar untuk
peserta didik sehingga dapat mempermudahkan peserta didik dalam belajar.
Mengutip
pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus
diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :
a)
Pembelajaran
harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
b)
Pembelajaran
dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari
umum ke khusus).
c)
Pembelajaran
harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara;
(b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain;
dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
d)
Pembelajaran
ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
e)
Adanya
refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat tercapai
apabila seluruh elemen dapat terjalankan dengan baik sehingga dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang efektif.
2.
Bermain peran
(role playing)
Merupakan
salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan
masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal
relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman
belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama,
komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian.
Mengutip
dari Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran
meliputi :
a)
Menghangatkan
suasana dan memotivasi peserta didik
b)
Memilih peran
c)
Menyusun
tahap-tahap peran
d)
Menyiapkan
pengamat
e)
Menyiapkan
pengamat
f)
Tahap
pemeranan
g)
Diskusi dan
evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I
h)
Pemeranan
ulang
i)
Diskusi dan
evaluasi tahap II
j)
Membagi
pengalaman dan pengambilan keputusan.
3.
Pembelajaran
Partisipatif (Participative Teaching and Learning)
Merupakan
model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Pengembangan
pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:
1)
Menciptakan
suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
2)
Membantu
peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
3)
Membantu
peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
4)
Membantu
peserta didik menyusun tujuan belajar.
5)
Membantu
peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
6)
Membantu
peserta didik melakukan kegiatan belajar.
7)
Membantu
peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.
Jika
Pengembangan pembelajaran dapat terjalan dengan baik maka peserta didik bisa
menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.
4.
Belajar
tuntas (Mastery Learning)
Ialah
di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan
memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar
semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran
harus dilaksanakan dengan sistematis. Tujuan pembelajaran harus diorganisir
secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu
dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang
lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta
didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya.Tujuan utama
evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan
bahan oleh peserta didik.
Strategi
belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal
berikut :
1)
Pelaksanaan
tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan
sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test)
2)
Peserta didik
baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai
bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan
3)
Pelayanan
bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf
penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).
5.
Pembelajaran
dengan Modul (Modular Instruction)
Modul
adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang
disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta
didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.
Pembelajaran
dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)
Setiap modul
harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang
harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa
yang harus digunakan.
2)
Modul
meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan
sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1)
memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan
kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah
diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang
spesifik dan dapat diukur.
3)
Pengalaman
belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik
untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar
tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role
playing), simulasi dan berdiskusi.
4)
Materi
pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik
dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak
menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
5)
Setiap modul
memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik,
terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai
ketuntasan belajar. Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah
mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan
situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami
kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan
penelitian terhadap setiap peserta didik.
6.
Pembelajaran Inkuiri
Merupakan
kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa
untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara
sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya
dengan penuh percaya diri. Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas
mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan
fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok,
serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar