Rabu, 21 April 2021

Konsep Manajemen Sekolah

 

Nama               : Salsabila

Nim                 : 11901229

Kelas               : PAI 4C

Mata Kuliyah  : Magang

 

Konsep Manajemen Sekolah

    A.            Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan perdebatan dan penjelasan yang berbeda-beda dalam penggunaan istilah manajemen. Contoh nya di dalam satu pihak ada yang menggunakan istilah manajemen, sehingga pengertian ini dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak lagi, menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal dengan istilah administrasi pendidikan.

Pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli :

a.       Yang pertama Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995). Beliau memberikan rumusan, bahwa :

“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu : 1.) Planning (merencanakan), 2.) Organizing (mengorganisasi), 3.) Leading (memimpin), dan Controlling (mengendalikan). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sedangkan dari para ahli yang lain yaitu Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995).

Beliau mengemukakan, bahwa : “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.

b.        Yang kedua secara khusus dalam konteks pendidikan, Dari Djam’an Satori (1980), beliau memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama denganmemanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”.
Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

Meski banyak ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam-ragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara mendasar dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa Manajemen Pendidikan : (1) Merupakan suatu kegiatan; (2) Memanfaatkan berbagai sumber daya (3) Berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

     B.            Fungsi Manajemen Sekolah

Secara umum ada empat fungsi manajemen yang dikenali oleh banyak masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Di dalam fungsi pengorganisasian terdapat fungsi pembentukan staf (staffing).

Menurut para ahli, Yamin dan Maisah (2009:2) beliau mengemukakan, Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, yaitu “perencanaan” (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).

    C.            Prinsip Manajemen Sekolah

Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan, dan kegiatan yang dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini menurut H. Siagian mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:

1)      Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning atau disebut juga dengan perencanaan, kedua organizing atau yang di sebut pengorganisasian, ketiga actuating atau disebut dengan pelaksanaan dan yang ke empat adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

2)      Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : yang pertama adalah planning atau perencanaan, yang kedua organizing atau di sebut dengan pengorganisasian, yang ketiga adalah commanding atau disebut pengaturan, keempat adalah coordinating pengkoordinasian dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

3)      Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, yang mencakup : yang pertama adalah planning atau yang di sebut dengan perencanaan, yang kedua adalah organizing atau disebut dengan pengorganisasian, yang ketiga staffing atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing atau disebut dengan pengarahan dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

4)      Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning atau disebut dengan perencanaan, yang kedua organizing atau disebut dengan pengorganisasian, yang ketiga staffing atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing atau disebut dengan pengarahan, yang kelima coordinating atau disebut dengan pengkoordinasian, yang keenam reporting atau disebut dengan pelaporan, dan yang ketujuh budgeting atau disebut dengan penganggaran

Dalam merencanakan pengembangan sekolah perlu adanya Teori dan konsep yang matang dan terencana untuk digunakan dalam mengelola sekolah. Pengembangan sekolah tersebut didasarkan pada empat prinsip, yaitu:

1.      Equifinality

Perencanaan yaitu merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai, beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa : “ Perencanaan atau yang disebut juga dengan planningcadalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini”. Arti penting dari perencanaan adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga dalam setiap kegiatan dapat diusahakan dan dapat dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko juga mengemukakan sembilan manfaat perencanaan yaitu: yang pertama adalah membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan, yang kedua membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama, yang ketiga memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran, yang keempat membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, yang kelima memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi, yang keenam memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi, yang ketujuh membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami, yang kedelapan meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, dan yang kesembilan menghemat waktu, usaha dan dana.

Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996), beliau mengemukakan langkah-langkah pokok perencanaan, yaitu :

a)      Penentuan tujuan yaitu dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : yang pertama menggunakan kata-kata yang sederhana, yang kedua mempunyai sifat fleksibel, yang ketiga mempunyai sifat stabilitas, yang keempat ada dalam perimbangan sumber daya, dan yang kelima meliputi semua tindakan yang diperlukan.

b)      Pendefinisian gabungan situasi secara baik: pendefisian gabungan situasi ini meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

c)      Merumuskan kegiatan yang dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal yang sama juga dikemukakan oleh T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : yang pertama  menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, yang kedua merumuskan keadaan saat ini, yang ketiga mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, yang keempat mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Prinsip Equifinality ini mengambil teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda dalam pencapaian tujuan. Manajemen sekolah bermutu lebih menekankan fleksibilitas. Untuk itu sekolah dapat mengelola seluruh aktifitasnya bersama warga sekolah menurut kondisi masyarakatnya masing-masing. Karena rumitnya job deskription sekolah saat ini dan adanya perbedaan-perbedaan yang ringkas antara sekolah satu dengan yang lainnya, contoh nyatanya adalah perbedaan input peserta didik, sarana prasarana dan situasi akademik sekolah, sekolah tidak bisa dijalankan dengan struktur yang sama di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara. Pendidikan sebagai komunitas yang sangat fleksibel dan terbuka terhadap berbagai perubahan yang terus berkembang. Oleh itu, tidak diragukan lagi bila sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya. Tantangan tersebut harus dijawab dengan tuntas oleh sekolah. Sekolah harus mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Walaupun sekolah satu mungkin memiliki masalah yang sama, cara penyelesaiannya akan berbeda antara sekolah satu dengan sekolah yang lainnya.

 

2.      Decentralization

Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam perubahan suatu sistem manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas (suatu tujuan yang dapat dicapai dengan berbagai cara). Prinsip desentralisasi dilKitasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielekakan dari kesultian dan permasalahan. Pendidikan memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya karena dalam pendidikan terdapat masalah yang rumit dan kompleks. Prinsip ekuifinalitas mempersilahkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.Sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan memecahkan masalahnya sendiri, secara efektif dan seevisien mungkin ketika masalah itu muncul. Dengan kata lain, tujuan prinsip desentralisasi adalah efisiensi dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah. Oleh karena itu, manajemen sekolah bermutu harus mampu menemukan masalah, memecahkannya tepat waktu dan memberi sumbangan yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran dan pembelajaran. Jika tidak ada desentralisasi, kewenangan sekolah tidak dapat dilakspeserta didikan dan akan berakibat terlambatnya pemecahan masalah secara cepat, tepat, dan efisien.

3.      Self-Management System

Manajemen sekolah yang bermutu perlu mencapai tujuan yang sudah di berikan kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi di dalam nya terdapat berbagai metode-metode yang berbeda-beda dalam mencapainya. Manajemen sekolah yang bermutu harus menyadari betapa pentingnya mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi (kewenangan untuk mengatur sendiri kepentingan masyarakat atau kepentingan untuk membuat aturan guna mengurus daerah nya sendiri) untuk mengembangkan tujuan pengajaran strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka masing-masing sesuai dengan SDM (Sumber Daya Manusia) dan kemampuannya. Sekolah harus lebih memiliki inisiatif dan tanggung jawan sendiri karena sekolah dikelola secara mandiri. Prinsip ini dikaitkan dengan prinsip sebelumnya, yaitu tentang prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Bila sekolah telah terjadi pelimpahan wewenang dari biokrasi di atasnya ke tingkat sekolah maka sekolah dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan adanya kewenangan tersebut, maka sekolah dapat melakukan sistem pengelolaan mandiri.

4.      Human Initiative

Perspektif sumber daya manusia menekankan bahwa, orang adalah sumber daya berharga di dalam organisasi sehingga poin utama manajemen adalah mengembangkan sumber daya manusia di dalam sekolah untuk berinisiatif. Berdasarkan perspektif ini maka Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya. Prinsip Human Initiative mengakui bahwa, manusia bukanlah sumber daya yang statis melainkan sumber daya yang dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudian dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak dapat lagi menggunakan istilah staffing yang konotasinya hanya mengelola manusia sebagai barang yang statis. Lembaga pendidikan harus menggunakan pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis dan aset yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Rabu, 14 April 2021

KULTUR SEKOLAH

Nama                           : Salsabila

Nim                             : 11901229

Kelas                           : PAI 4C

Mata Kuliyah              : Magang

KULTUR SEKOLAH

    A.            Pengertian Kultur Sekolah

Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris yaitu “culture” yang disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Menurut Antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, 2003: 72).  Kultur mencakup cara berfikir , perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak yang diakui oleh kelompok masyarakat. Oleh karena itu, kultur akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Lembaga utama yang didesain untuk memperlancar transmisi kultural antar generasi yaitu sekolah (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Kebudayaan juga milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya, dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang di hadapi tidak selamanya sama, maka setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Masing-masing sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.

“Keunikan” dalam budaya sekolah inilah yang membedakan pengalaman dalam budaya sekolah. Dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, selain itu juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74). Budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Selain itu juga budaya sekolah mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan, tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.

Sekolah yaitu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai, sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).

Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Kalau definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi.

Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan, kultur sekolah adalah pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil, baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.

Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.

 

     B.            Karakteristik Kultur Sekolah

Diharapkan dari kultur sekolah yaitu supaya memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Kultur sekolah sehat bila memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal,energik, bekerja secara efisien, semangat tinggi dan mampu terus berkembang. Dampak sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya di akibatkan keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika masalah ini ditangani dengan bijak dan sehat, bisa membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Macam-macam kultur oleh Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1.      Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

a)      Semangat membaca dan mencari referensi

b)      Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup

c)      Kecerdasan emosional siswa

d)      Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis

e)      Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis

 

2.      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

a)      Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan

b)      Nilai-nilai keterbukaan

c)      Nilai-nilai kejujuran

d)      Nilai-nilai semangat hidup

e)      Nilai-nilai semangat belajar

f)       Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain

g)      Nilai-nilai untuk menghargai orang lain

h)      Nilai-nilai persatuan dan kesatuan

i)       Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif

j)       Nilai-nilai disiplin diri

k)      Nilai-nilai tanggung jawab

l)       Nilai-nilai kebersamaan

m)   Nilai-nilai saling percaya

n)      Nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

 

    C.            Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. 1.) Sebagian dapat diamati dan sebagian tidak, seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya itu berupa norma-norma kelompok atau cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah, biasanya disebut artifak. 2.) Nilai-nilai bersama yang dianut kelompok, itu berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak bisa diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama.

Stolp dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 8-10) membagi tiga tempat lapisan kultur yaitu artifak (di permukaan), nilai-nilai keyakinan (di tengah), dan asumsi (di dasar). Pengertian Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati seperti aneka hal ritual sehari-hari di sekolah, upacara , benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur dengan cepat dirasakan ketika mengadakan kontrak dengan suatu sekolah.  Asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus berdampak terhadap perilaku warga sekolah adalah lapisan terdalam dalam kultur sekolah.

 

    D.            Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah

Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152) adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah.  Kinerja sekolah meliputi kinerja siswa yaitu hasil belajar atau perilaku belajar, disiplin, motivasi, daya saing dan kerja sama, kemampuan berprakarsa dan memperhitungkan resiko, sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi anak didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: (1) hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.

Suyanto & Abbas (2001: 114) mengemukakan, lembaga pendidikan yang selama ini kepar menjadi sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan adalah sekolah.

Zamroni (2000: 147) mengemukakan, sekolah memiliki tiga aspek pokok suatu sistem yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah yakni, proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga aspek pokok tersebut. Selama ini secara konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan belum dilakukan dengan sistematis (mencakup ketiga aspek tersebut).  Sasaran dari upaya yang selama ini dilakukan dengan menyediakan dana bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku teks dan pengadaan fasilitas lainnya hanya menyentuh aspek proses belajar mengajar dan kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan ternyata hal ini tidaklah menghasilkan sebagaimana yang diinginkan. Agar mutu meningkat, selain dilakukan secara konvensional sebagaimana selama ini telah dilakukan perlu diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional, yakni melalui pengembangan kutur sekolah. Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai kultur yang bersifat racun (toxic) yaitu yang besifat menganggu dan menyimpang dari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari beroperasinya sekolah.

 

     E.            Implikasi Kultur Sekolah Dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson (1999) memperluas kajiannya yang menunjukkan kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Deskripsi aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah yaitu :

1.      Visi (Vision) dan Nilai (Values).

Berdasarkan definisi Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) , visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.  Dan berdasarkan definisi Menurut (Kluckhohn dalam Enz, 1986), Nilai secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan: Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.

Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: komponen kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi. Sedangkan nilai instrumental adalah nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

 

     F.            Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Tiap-tiap sekolah memiliki kultur sekolah dan masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2001). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Suyanto & Abbas, M.S. (2001). Wajah dan dinamika pendidikan anak bangsa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Zamroni. (2000). Paradigma pendidikan masa depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing. _______. (2001). Pendidikan untuk demokrasi (tantangan menuju civil society). Yogyakarta: Bigraf Publishing

Deal, Terrence E. & Peterson, Kent D. 1998. “How Leaders Influence the Culture of Schools?”. Educational Leadership, Sept. 1998, Vol. 56, Number 1, Pages 28-30. ------------------. 1999. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco: Jossey[1]Bass Publishers. ------------------. 2011. Shaping School Culture: Pitfals, Paradoxes, & Promises. San Fransisco: Jossey-Bass.