Rabu, 30 Juni 2021

Media Pembelajaran

Nama : Salsabila


Nim : 11901229


Kelas : PAI 4C


Mata kuliah : Magang 1


 A. PENGERTIAN MEDIA PENDIDIKAN  


Bismillahirrahmanirrahim, baik di sini saya akan memaparkan sedikit pemahaman saya tentang media pembelajaran yakni dari pengertian, alat-alat apa yang harus ada di dalam proses pembelajaran, Revolusi perkembangan media pembelajaran dari zaman ke zaman dan manfaat dari media pembelajaran. Tentunya kita sudah tau apa itu media pembelajaran, media pembelajaran adalah alat-alat bantu yang digunakan untuk membantu pelaksanaan proses belajar mengajar, mulai dari buku sampai dengan penggunaan elektronik atau biasa kita sebut dengan media internet. 

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan minat serta perhatian siswa sehingga proses belajar terjadi. Jadi apapun di dunia ini dan apapun yang ada di lingkungan kita yang kita dapati, kemudian dapat di manfaatkan untuk mengantarkan pesan Pembelajaran. 


    Menurut Aswan Syamsuddin, 2017 media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat membuatnya lebih giat untuk belajar. Senada dengan pendapat Gegne adalah pendapat Briggs, yang mendefinisikan segala bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat membuat siswa untuk lebih giat belajar. Dari dua definisi ini tampak pengertian media mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan.


    Menurut Vernous, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Zakiah Daradjat menyebutkan bahwa media pendidikan adalah sumber belajar dan dapat juga diartikan dengan manusia dan benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa mungkin memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.


Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat kita simpulkan bahwa alat merupakan perangkat atau media yang bisa di gunakan dalam melakukan sesuatu. Adapun alat-alat pendidikan yang berarti media yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran di dalam sekolah maupun di luar sekolah.


    Alat-alat yang harus ada dalam pendidikan


1. Pendidik, merupakan alat pendidikan yang sangat di butuhkan dalam proses pembelajaran karena tanpa pendidik, pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.


2. Lembaga pendidikan, yakni yang memberikan tempat untuk dilaksanakannya pendidikan formal ataupun informal.


3. Anak didik, sebagai sasaran pendidikan yang menjadi obyek para pendidik sekaligus pendidikan itu sendiri.


4. Sarana dan prasarana pendidikan, yakni yang membantu lancarnya pelaksanaan pendidikan, terutama dalam proses belajar dan mengajar.


5. Perpustakaan. Perpustakaan ialah tempat penyimpanan media pembelajaran (buku) yang memberikan informasi seputar ilmu pengetahuan kepada peserta didik maupun pendidik. 


6. Kecakapan atau kompetensi pendidik, yang memberikan pengajaran yang profesional dan sesuai dengan kemampuan.


7. Metodologi pendidikan dan pendekatan sistem pengajaran yang digunakan, misalnya menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan, atau pengajaran dengan pola rekreatif.


8. Manajemen pendidikan yang mengolah pelaksanaan pendidikan, yang merupakan alat yang amat penting dalam pendidikan, seperti pengaturan jadwal mata pelajaran, penempatan pendidik dalam mata pelajaran tertentu, pengaturan lama mengajar, pemenuhan gaji para pendidik, serta menentukan rapat para pendidik.


9. Strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan belajar siswa dalam lembaga pendidikan tertentu, dikarena setiap lembaga pendidikan memiliki visi dan misi serta tujuan yang berbeda-beda.


Media pembelajaran itu tergantung pada kemampuan yang ada pada pendidik, sehingga jika pendidik dapat menggunakan media yang tepat pada pembelajaran, maka media pembelajaran bisa menjadi sebuah informasi yang bermanfaat bagi peserta didik. Untuk bisa memahami teknologi informasi yang berkembang pada era revolusi ini, dan juga merupakan keharusan bagi pengajar untuk mempelajari media-media yang bisa di gunakan untuk proses pembelajaran. Adapun hakikat media pembelajaran bagi guru itu, yakni bagaimana menentukam media yang tepat, efektif serta efisien sehingga pembelajaran itu dapat digunakan secara fungsional dan tujuan pembelajaran dapat tercapai


Jadi, pada hakikatnya media pembelajaran ialah apapun yang dapat kita sampaikan, jika itu berupa pesan maka itu disebut dengan media. media tidak hanya digunakan untuk mendapatkan materi saja tetapi juga dapat untuk memotivasi, karena jika tujuan pembelajaran tersampaikan maka pesan pembelajaran akan tercapai juga.


B. Revolusi perkembangan media pembelajaran


Revolusi media pembelajaran ada beberapa tahap yakni :


1. Pembelajaran dari guru (ceramah) sehingga jika dulu tidak ada guru maka siswa tidak mendapatkan informasi.


2. Memanfaatkan kulit, dan kemudian ditemukan teknologi kertas (menuliskan pesan-pesan pembelajaran yang akan di berikan kepada siswa sebagai media pembelajaran)


3.  Penggunaan papan tulis menghadirkan teks tulisan maupun gambar dalam pembelajaran, setelah di temukan teknologi kertas kemudian muncullah media papan tulis untuk media pembelajaran di kelas. 


4. Penggunaan OHP/ infokus ,media ini juga bisa di jadikan alat atau media pembelajaran, karena dapat memudahkan peserta didik memahami apa yang di sampaikan pendidik, infokus dapat menampilkan gambar, audio dan vidio


5. Penggunaan media internet. zaman yang baru ini banyak yang menggunakan media internet yang banyak sekali perangkatnya sehingga memudahkan pengajar dan siswa dalam pembelajaran.


C. Fungsi


1. Memperjelas materi yang abstrak menjadi konkret. 


2. Menumbuhkan motivasi belajar pada peserta didik.


Proses pembelajaran yang baik maka akan memunculkan komunikasi yang baik pula, proses belajar itu melalui komunikator sebagai pemberi pesan yang dapat dilakukan melalui audio video, dan pesan tersebut dapat menggunakan media seperti perangkat lunak maupun keras. Transformasi media pembelajaran sendiri merupakan hasil dari teknologi karena media berubah dari zaman ke zaman sesuai teknologi yang berkembang.


D. Manfaat dari media pembelajaran


1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas


2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya Indra


3. Menumbuhkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dan sumber belajar


4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetik

Rabu, 23 Juni 2021

Karateristik Peserta Didik

Nama               : Salsabila
Nim                 : 11901229
Kelas               : PAI 4C
Mata Kuliyah  : Magang 1

 

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Sebelum kita menjadi seorang guru, seharusnya kita mengetahui bagaimana karakter seorang peserta didik, karena sangat penting bagi seorang guru mengetahui, mengenali serta memahami setiap karakteristik peserta didik. Manfaat salah satu ketika kita sudah mengenali karakter setiap peserta didik maka mudah membuat strategi yang akan di terapkan di dalam kelas.  Yang paling utama kita harus tahu apa pengertian dari karakteristik, karakteristik peserta didik, bagaimana mengetahui, mengenali serta memahami peserta didik?

Menurut Michael Novak karakter merupakan “campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang berakal sehat yang ada dalam sejarah.”. Sementara itu, Masnur Muslichmenyatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

    A.            Pengertian Karakteristik Peserta Didik 

Karakteristik peserta didik merupakan mencerminkan pola kelakuan dan kemampuan hasil dari pembawaan dan lingkungan sosial sehingga menentukan pola dari kegiatan aktivitas. Karakteristik Menurut Tadkiroatun Musfiroh, karakter yang mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Dari menurut para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa Karakter seseorang anak sering dipengaruhi oleh orang yang berada di lingkungan sekitar, maupun orang-orang yang dekat dengannya, sehingga sering kali kita lihat anak kecil menirukan tingkah laku dari orang-orang yang dekat dengannya contohnya orang tua, pengasuhnya atau teman bermain. tidak jarang anak sering juga meniru tingkahlaku dari tokoh yang di tontonnya di televisi. Tetapi karakter berbeda dengan kepribadian, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan kepribadian. Seorang guru dalam proses perencanaan pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik serta kemampuan awal peserta didik. Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik. 

Adapun menurut Atwi Suparman, 2001:123 mengatakan bahwa Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagaiciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya  yang meliputi antara lain yakni kemampuan akademik, usia serta tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama peserta didik, serta kemampuan sosial(berinteraksi di masyarakat).

Adapun Karakteristik peserta didik Ada dua karakteristik peserta didik yang perlu dipahami oleh guru yakni: 

1)      Latar belakang akademik 

a.       Jumlah peserta didik 

Seorang guru juga perlu mengetahui jumlah peserta didik yang akan diajar. Bagaimana guru akan mengetahui jumlah peserta didik di dalam kelas? Yakni dengan cara mengabsen setiap peserta didik yang ada di kelas, dengan begitu guru lebih mudah untuk mengingat jumlah serta memudahkan guru dalam memahami karakteristik peserta Didik. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik juga akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media, serta waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang akan dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik. 

b.       Latar belakang peserta didik 

Latar belakang bisa di dapatkan oleh guru dengan cara meminta biodata dari peserta didik.

c.       Indeks prestasi 

Indeks prestasi bisa didapatkan dengan cara diketahui oleh seorang guru, agar materi yang akan diberikan sesuai dengan kemampuan: 

·         Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.

·         Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama. 

·         Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik. 

d.       Tingkat intelegensi 

Seorang guru juga harus memahami tingkat intelegensi para peserta didik, karena dapat mengukur serta meprediksi : 

·         Tingkat kemampuan peserta didik dalam menerima materi pelajaran. 

·         Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi pada peserta didik. 

·         Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi peserta didik. 

e.       Keterampilan membaca 

Peserta didik harus memiliki kecakapan, keterampilan dalam membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat Apa yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan. 

f.        Nilai ujian 

Nilai ujian peserta didik dapat di dapatkan melalui kemampuan awal hingga akhir dari peserta didik melalui mata pelajaran yang di ajari guru bersangkutan 

g.       Kebiasaan belajar/ gaya belajar 

Guru juga harus memperhatikan kebiasaan dan gaya belajar para peserta didik, agar memudahkan bagi guru untuk memulai proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar ialah bisa di bilang ciri khas belajar pada  peserta didik. Dalam proses pembelajaran, dari banyak para peserta didik yang ikut serta dalam belajar dari pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan peserta didik yang berbeda-beda, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara belajar yang dimiliki oleh tiap-tiap masing-masing peserta didik. Hal tersebut senada dengan pendapat.

(Hisyam Zaini, 2002:45 mengatakan bahwa  Seorang peserta didik yang senang membaca, akan berbeda dengan peserta didik yang jarang membaca. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan peserta didik mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisir, merespons, dan memikirkan informasi tersebut. Keanekaragaman gaya belajar peserta didik perlu diketahui oleh para guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologi gaya pembelajaran dari peserta didik. Adapun prinsip efektivitas pembelajaran adalah kesesuaian pendekatan mengajar seorang guru dengan gaya belajar peserta didik. 

h.       Minat belajar 

Dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karakter peserta didik. Hal ini dilakukan supaya guru dapat memprediksi serta melihat tingkat antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan. 

i.        Harapan atau keinginan peserta didik 

Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disajikan  juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta kepada peserta didik untuk menentukan pendapat tentang harapan peserta didik terhadap pelajaran yang akan diberikan, dan membuat suasana proses belajar yang diinginkan, serta tujuan yang diperoleh dari mata pelajaran tersebut. 

j.        Lapangan kerja yang diinginkan 

Kemp, 1998: 131 mengatakan bahwa seorang guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka yang diinginkan.

 

     B.            Manfaat memahami karakter anak didik

Banyak sekali manfaat yang di dapatkan oleh guru maupun peserta didik. Salah satunya adalah guru dan peserta didik dapat saling mengenal karakteristik satu dengan yang lain, peserta didik juga mendapatkan perlakuan yang adil oleh guru, tidak ada yang namanya diskriminasi, merasakan bimbingan yang sesuai, serta mendapat pelayanan prima. Adapun manfaat dari mengenal serta memahami peserta didik adalah sebagai berikut: 

1)      Guru dapat mengenal peserta didiknya

2)      Guru dapat memberikan perlakuan yang adil terhadap peserta didiknya, agar tidak ada diskriminasi

3)      Guru dapat juga mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap diri peserta didik yang berupa minat, bakat serta kegemarannya dan berusaha menekan potensi negatif yang memungkinkan muncul dari karakter peserta didik yang tidak Baik.


Rabu, 16 Juni 2021

Strategi Pembelajaran

 

Nama               : Salsabila
Nim                 : 11901229
Kelas               : 4 C
Mata Kuliyah  : Magang 1

 

STRATEGI PEMBELAJARAN

Strategi pembelajaran atau dalam bahasa Inggris disebut dengan teaching strategy merupakan suatu tindakan dari seorang guru dalam melaksanakan rencana pembelajaran, yang artinya guru memiliki peran sebagai seorang pendidik dan fasilitator yang mampu menganalisis masalah-masalah dalam pembelajaran, agar dapat menemukan berbagai inovasi serta dapat meningkatkan kegiatan kualitas belajar mengajar dengan menggunakan beberapa variabel pembelajaran agar dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Selain itu, pengertian strategi pembelajaran juga dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu :

1)      Dick dan Carey (1990) mengatakan Arti strategi Pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran bukan hanya sebatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

2)      Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1995) Pengertian strategi pembelajaran adalah sebagai pola-pola umum kegiatan peserta didik dalam mewujudkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan

3)      Suparman (1997) menegaskan bahwa Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan

4)      Cropper (1998) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5)      Sanjaya, Wina (2007) menjelaskan Strategi pembelajaran merupakan pola umum perbuatan guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar.

Strategi pembelajaran juga terdiri dari beberapa metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian.

Mengutip Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang-kadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Teknik adalah jalan atau alat (way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Sedangkan Metode, menurut Winarno Surakhmad (1986) adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif, maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, dan demonstrasi. Berbagai media, seperti film, VCD, kaset audio, dan gambar, dapat digunakan sebagai bagian dari teknik-teknik yang dipilih oleh guru.

Metode pembejaran yang bisa dipilih dari konsep strategi pembelajaran adalah Ceramah, Diskusi kelompok, Demonstrasi , Simulasi, Pengalaman lapangan, Mind Mapping, Drama, dan lain-lain.

Dalam kurikulum 2013 strategi pembelajaran atau model pembelajaran ada 5, yaitu :

1.      Strategi discovery Learning (DL) (Menyingkap Pembelajaran) ialah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.

2.      Strategi inkuiri Learning (IL) (Penyelidikan Pembelajaran) menurut Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) strategu ini sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

3.      Strategi Problem Based Learning (PBL) (Pembelajaran berbasis masalah) menurut duch (1995) metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan.

4.      Strategi Project Based Learning (PBL) (Pembelajaran Berbasis proyek) ialah pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar

5.      Strategi Saintifik Learning (SL) ( Pembelajaran Ilmiah) ialah Proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi, yaitu :

1.      Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peran guru sebagai fasilitator yang menyediakan sarana atau sumber bahan ajar untuk peserta didik sehingga dapat mempermudahkan peserta didik dalam belajar.

Mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

a)      Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

b)      Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).

c)      Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.

d)      Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.

e)      Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat tercapai apabila seluruh elemen dapat terjalankan dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.

 

2.      Bermain peran (role playing)

Merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian.

Mengutip dari Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi :

a)      Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik

b)      Memilih peran

c)      Menyusun tahap-tahap peran

d)      Menyiapkan pengamat

e)      Menyiapkan pengamat

f)       Tahap pemeranan

g)      Diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I

h)      Pemeranan ulang

i)       Diskusi dan evaluasi tahap II

j)       Membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.

 

3.      Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

1)      Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.

2)      Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan

3)      Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.

4)      Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.

5)      Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.

6)      Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

7)      Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

Jika Pengembangan pembelajaran dapat terjalan dengan baik maka peserta didik bisa menjadi aktif dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.

 

4.      Belajar tuntas (Mastery Learning)

Ialah di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya.Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik.

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut :

1)      Pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test)

2)      Peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan

3)      Pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

 

5.      Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:

1)      Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.

2)      Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.

3)      Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.

4)      Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.

5)      Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar. Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

 

6.      Pembelajaran Inkuiri

Merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

Rabu, 09 Juni 2021

Kurikulum

 

Nama              : Salsabila
Nim                 : 11901229
Kelas               : 4 C
Mata Kuliyah : Magang 1

 

KURIKULUM

    A.            Pengertian Kurikulum

Yunani berasal dari bahasa Yunani, yaitu cucere yang berubah menjadi kata benda curriculum. Jamaknya kurikulum pertama kali dipakai dalam dunia atletik. Di dalam dunia atletik, kurikulum diartikan (a race course, a place for running a chariot ) yang berarti Suatu jarak untuk perlombaan yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Sedangkan a chariot diartikan semacam kereta pacu pada zaman dahulu, yakni suatu alat yang membawa seseorang dari start sampai finish.

Kurikulum dipakai juga dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:

a.       Kurikulum Dalam Arti Sempit Atau Tradisional

Kurikulum sebagai (a course, esp. A specific fixed course of study, as in school or college, as one leading to a degree) yang artinya kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran disekolah atau di perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijazah dan naik tingkat. Carter V. Good mengemukakan pengertian kurikulum ialah sekumpulan mata pelajaran yang bersifat sistematis yang diperlukan untuk lulus atau mendapatkan ijazah dalam bidang studi pokok tertentu.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disajikan guru kepada siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat. Pengertian kurikulum ini, saat sekarang, sama dengan “rencana pelajaran di sekolah, yang disajikan guru kepada murid.”

 

b.      Kurikulum Dalam Arti Luas Atau Modern

Kurikulum mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas dalam pengertian ini, jadi bukan sekedar sejumlah mata pelajaran. Ronald Doll mengemukakan bahwa kurikulum adalah meliputi semua pengalaman yang disajikan kepada murid dibawah bantuan atau bimbingan sekolah. Horald Spears memberi batasan kurikulum, bahwa kurikulum tersusun dari semua mengalaman murid yang bersifat aktual dibawah bimbingan sekolah, mata pelajaran yang ada hanya sebagian kecil dari program kurikulum.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan, kurikulum adalah semua pengalaman, kegiatan, dan pengetahuan murid dibawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau guru.

Pengertian kurikulum ini memberikan implikasi pada program sekolah bahwa semua kegiatan yang dilakukan murid dapat memberikan pengalaman belajar. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat meliputi kegiatan didalam kelas. Misalnya, kegiatan dalam mengikuti proses belajar mengajar (tatap muka), praktek keterampilan, dan sejenisnya, atau kegiatan diluar kelas, seperti kegiatan pramuka, wisata karya, kunjungan ketempat-tempat wisata /sejarah, peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan, dan sejenisnya.

 

     B.            Asas-Asas Kurukulum

Asas merupakan prinsip dasar atau landasan  pijakan kurikulum. Dengan adanya asas, kurikulum mempunyai kerangka yang jelas untuk mencapai tujuan pendidikan. Asas- asas kurikulum cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan, sehingga harus diadakan pilihan. Tiap kurikulum didasarkan atas asas-asas tertentu, yaitu:

a.       Asas Filosofis

Filsafat sering disebut sebagai mother of knowledge, karena filsafat sangat penting dalam setiap ilmu, tanpa terkecuali kurikulum. Filsafat dapt diartikan sebagai upaya berfikir sedalam-dalam nya, yakni sampai ke akar-akarnya tentang hakikat sesuatu. Secara akademik, filsafat yaitu upaya menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang bersifat sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.

Filsafat membahas permasalahan yang dihadapi manusia, termasuk masalah-masalah pendidikan yang biasa disebut dengan filsafat pendidikan. Menurut Ronald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan pertimbangan filosofis.

Pertamyaan-pertanyaan seperti “Pendidikan berintikan interaksi manusia terurama antara pendidik dan yang terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan, siapa pendidik dan siapa terdidik, apa isi pendidik dan bagaimana proses interaksi pendidik. Merupakan pertanyaan yang harus dijawab secara mendasar, tidak ada jawaban yang tepat kecuali yang esensial dan filosofis.

 

b.      Asas Sosiologis

Menyiapkan anak untuk kehidupan dalam bermasyarakat, termasuk dalam pendidikan, jadi tidak semua pendidikan hanya untuk pendidikan. Sebagaimana diketahui, bahwa sosiologi merupakan landasan yang berhubungan dengan institusi pendidikan dan masyarakat. Sebagai generasi muda perlu mengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat, memiliki kecakapan-kecakapan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, baik secara warga maupun karyawan.

Dari segi sosiologis sistem pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan di dalamnya sebagai badan yang berfungsi bagi kepentingan masyarakat sebagai berikut:

1)      Mengadakan perbaikan atau perombakan sosial.

2)      Mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.

3)      Mendukung dan turut memberi sumbangan kepada pembangunan nasional.

4)      Menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional serta mempertahankan status quo.

5)      Mewujudkan revolusi sosial untuk melenyapkan pengaruh pemerintah terdahulu.

6)      Mengarahkan dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.

7)      Mendorong dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

8)      Mendidik generasi muda menjadi warga Negara nasional dan warga dunia.

9)      Membangun ktrampilan dasar yang bertalian dengan mata pencarian.

Masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam pengembang kurikulum, maka masyarakat tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab itu landasan sangat dipentingkan.

c.       Asas Psikologis

Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar individu manusia, yaitu antar peserta disik dengan orang-orang yang lainnya, seperti guru atau dosen, kepala sekolah atau dekan dan sebagainya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena kondisi psikologisnya.

Kondisi psikologis manusia jauh lebih kompleks dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan. Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ada 2 bidang psikologi yang mendasari kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan dalam memilih, menerapkan metode pembelajaran serta tehnik-tehnik penilaian.

1)      Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa pertemuan sperma dengan sel telur sampai dengan dewasa yang disebut masa Konsepsi. Dapat dilihat, bahwasanya psikologi perkembangan terkait dengan perkembangan anak atau peserta didik, juga termasuk di dalamnya adalah minat peserta didik. Dengan memperhatikan hal-hal itulah, kurikulum disusun agar lebih mudah diterima.

2)      Psikologi Belajar

Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Secara sederhana, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Segala bentuk perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar.

Belajar adalah suatu proses yang sangat kompleks dan pelik, oleh sebab itu, maka timbul lah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidaksesuaian antara satu sama lainnya.

Pada dasarnya setiap teori belajar mempunyai kebenaran. Tetapi tidak memungkinkan sebuah teori dapat memberikan gambaran yang gamblang mengenai proses pendidikan yang termudah sampai yang paling pelik mengenai proses belajar.

Teori belajar menjadi dasar bagi proses belajar-mengajar. Dengan demikian ada hubungan antara kurikulum dan psikologi belajar serta psikologi perkembangan.

 

d.      Asas Organisatoris

Asas ini berkenaan dengan masalah, dalam bentuk dan bagaimana bahan pelajaran akan disajikan. Ada beberapa kriteria dalam penentuan kurikulum yakni kegunaan kurikulum dalam menafsirkan, memahami, dan menilai kehidupan, memuaskan minat dan kebutuhan peserta didik, mengembangkan kemampuan, sikap dan sebagainya yang dipandang bermanfaat serta sesuai dengan bidang dan mata pelajaran tertentu. Dalam organisasi kurikulum ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yakni scope atau yang disebut juga dengan ruang lingkup, yakni keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang akan diberikan dari suatu bidang studi mata pelajaran. Urutan penyusunan bahan pelajaran atau disebut dengan sequence, yaitu penyusunan bahan pelajaran menurut aturan tertentu secara berurutan dan sistematis. Terakhir adalah penempatan bahan atau disebut dengan grade plecement, yaitu penempatan suatu atau beberapa bahan pelajaran untuk kelas tertentu. Seperti apa kurikulum yang dipilih oleh sebuah instansi pendidikan sangat tergantung pada asas-asas diatas, karena setiap institusi mempunyai visi dan misi tersendiri.

 

    C.            Konsep Kurikulum

Konsep Kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “... a racecource of subject matters to be mastered”. Kurikulum akan memberikan jawaban sekitar bidang studi atau mata-mata pelajaran. Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran.

Pendapat-pendapat yang muncul selanjutnya telah beralih dari menekankan pada isi menjadi lebih memberikan tekanan pada pengalaman belajar. Kurikulum tidak hanya menunjukkan adanya perubahan lingkup, dari konsep yang sangat sempit kepada yang lebih luas. Apa yang dimaksud dengan pengalaman siswa yang diarahkan atau menjadi tanggung jawab sekolah mengandung makna yang cukup luas. Pengalaman tersebut dapat berlangsung disekolah, dirumah ataupun dimasyarakat, bersama guru atau tanpa guru, berkenaan langsung dengan pelajaran ataupun tidak. Definisi tersebut juga mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalaman tersebut serta berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalamn tersebut serta berbagai fasilitas yang mendukungnya

Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum curriculum plan yang berarti sebagai rencana, dengan functioning curriculum yang berarti kurikulum yang fungsional. Suatu kurikulum, apakah itu kurikulum pendidikan dasar, pendidikan menengah atau pendidikan tinggi; kurikulum sekolah umum, kejuruan, dan lain-lain merupakan perwujudan atau penerapan teori-teori kurikulum. Teori-teori tersebut merupakan hasil pengkajian, penelitian, dan pengembangan para ahli kurikulum. Kumpulan teori-teori kurikulum membentuk suatu ilmu atau bidang studi kurikulum. Bidang cakupan teori atau bidang studi kurikulum meliputi: konsep kurikulum, penentuan kurikulum, pengembangan kurikulum, desain kurikulum, implementasi dan evaluasi kurikulum.

Selain sebagai bidang studi, kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan. Kurikulum sebagai suatu rencana pengajaran, berisi tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan disajikan, kegiatan pengajaran, alat-alat pengajaran dan jadwal waktu pengajaran. Sebagai suatu sistem, kurikulum merupakan bagian atau subsistem dari keseluruhan kerangka organisasi sekolah atau sistem sekolah. Kurikulum sebagai suatu sistem menyangkut penentuan segala kebijakan tentang kurikulum, susunan personalia dan prosedur pengembangan kurikulum, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya. Fungsi utama sistem kurikulum adalah dalam pengembangan, penerapan, evaluasi, dan penyempurnaannya, baik sebagai dokumen tertulis maupun aplikasinya dan menjaga agar kurikulum tetap dinamis.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.uinsby.ac.id/10891/6/bab2.pdf