Nama :
Salsabila
Nim :
11901229
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliyah :
Magang
Konsep
Manajemen Sekolah
A.
Pengertian
Manajemen Sekolah
Dalam konteks
pendidikan, memang masih ditemukan perdebatan dan penjelasan yang berbeda-beda
dalam penggunaan istilah manajemen. Contoh nya di dalam satu pihak ada yang menggunakan
istilah manajemen, sehingga pengertian ini dikenal dengan istilah manajemen
pendidikan. Di lain pihak lagi, menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal
dengan istilah administrasi pendidikan.
Pengertian umum
tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli :
a. Yang pertama Dari Kathryn . M. Bartol dan David C.
Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995). Beliau
memberikan rumusan, bahwa :
“Manajemen adalah proses
untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat
fungsi utama yaitu : 1.) Planning (merencanakan), 2.) Organizing (mengorganisasi),
3.) Leading (memimpin), dan Controlling (mengendalikan). Dengan demikian,
manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sedangkan dari para ahli yang lain yaitu Stoner sebagaimana dikutip oleh T.
Hani Handoko (1995).
Beliau mengemukakan, bahwa :
“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber
daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan”.
b. Yang kedua
secara khusus dalam konteks pendidikan, Dari Djam’an Satori (1980), beliau
memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah
administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama
denganmemanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai
untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien”.
Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan
sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama
sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang
diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan
formal”.
Meski banyak
ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam-ragam, baik yang
bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara mendasar dapat
ditarik kesimpulan tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa Manajemen
Pendidikan : (1) Merupakan suatu kegiatan; (2) Memanfaatkan berbagai sumber
daya (3) Berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.
B.
Fungsi
Manajemen Sekolah
Secara umum ada
empat fungsi manajemen yang dikenali oleh banyak masyarakat yaitu fungsi
perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan
(directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Di dalam fungsi
pengorganisasian terdapat fungsi pembentukan staf (staffing).
Menurut para ahli, Yamin
dan Maisah (2009:2) beliau mengemukakan, Dalam proses manajemen terlibat
fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, yaitu “perencanaan”
(planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan
pengawasan (controlling).
C.
Prinsip
Manajemen Sekolah
Manajemen
pendidikan merupakan suatu kegiatan, dan kegiatan yang dimaksud tak lain adalah
tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan
fungsi-fungsi manajemen ini menurut H. Siagian mengungkapkan pandangan dari
beberapa ahli, sebagai berikut:
1)
Menurut G.R.
Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning atau
disebut juga dengan perencanaan, kedua organizing atau yang di sebut pengorganisasian,
ketiga actuating atau disebut dengan pelaksanaan dan yang ke empat adalah controlling
atau disebut dengan pengawasan.
2)
Sedangkan
menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : yang pertama
adalah planning atau perencanaan, yang kedua organizing atau di sebut dengan pengorganisasian,
yang ketiga adalah commanding atau disebut pengaturan, keempat adalah coordinating
pengkoordinasian dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.
3)
Sementara
itu, Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, yang
mencakup : yang pertama adalah planning atau yang di sebut dengan perencanaan,
yang kedua adalah organizing atau disebut dengan pengorganisasian, yang ketiga staffing
atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing atau disebut dengan pengarahan
dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.
4)
Selanjutnya,
L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning
atau disebut dengan perencanaan, yang kedua organizing atau disebut dengan pengorganisasian,
yang ketiga staffing atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing
atau disebut dengan pengarahan, yang kelima coordinating atau disebut dengan pengkoordinasian,
yang keenam reporting atau disebut dengan pelaporan, dan yang ketujuh budgeting
atau disebut dengan penganggaran
Dalam merencanakan
pengembangan sekolah perlu adanya Teori dan konsep yang matang dan terencana
untuk digunakan dalam mengelola sekolah. Pengembangan sekolah tersebut
didasarkan pada empat prinsip, yaitu:
1.
Equifinality
Perencanaan yaitu merupakan kegiatan untuk
menetapkan tujuan yang akan dicapai, beserta cara-cara untuk mencapai tujuan
tersebut. T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa : “ Perencanaan atau
yang disebut juga dengan planningcadalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi
dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode,
sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan
keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini”. Arti penting dari perencanaan adalah
memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga dalam setiap kegiatan
dapat diusahakan dan dapat dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T.
Hani Handoko juga mengemukakan sembilan manfaat perencanaan yaitu: yang pertama
adalah membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
lingkungan, yang kedua membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah
utama, yang ketiga memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran, yang
keempat membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, yang kelima memberikan
cara pemberian perintah untuk beroperasi, yang keenam memudahkan dalam
melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi, yang ketujuh membuat
tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami, yang kedelapan
meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, dan yang kesembilan menghemat waktu,
usaha dan dana.
Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996), beliau mengemukakan
langkah-langkah pokok perencanaan, yaitu :
a)
Penentuan
tujuan yaitu dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : yang pertama
menggunakan kata-kata yang sederhana, yang kedua mempunyai sifat fleksibel, yang
ketiga mempunyai sifat stabilitas, yang keempat ada dalam perimbangan sumber
daya, dan yang kelima meliputi semua tindakan yang diperlukan.
b)
Pendefinisian
gabungan situasi secara baik: pendefisian gabungan situasi ini meliputi unsur
sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.
c)
Merumuskan
kegiatan yang dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal yang sama juga
dikemukakan oleh T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa terdapat
empat tahap dalam perencanaan, yaitu : yang pertama menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan,
yang kedua merumuskan keadaan saat ini, yang ketiga mengidentifikasi segala
kemudahan dan hambatan, yang keempat mengembangkan rencana atau serangkaian
kegiatan untuk pencapaian tujuan.
Prinsip
Equifinality ini mengambil teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa
metode yang berbeda dalam pencapaian tujuan. Manajemen sekolah bermutu lebih
menekankan fleksibilitas. Untuk itu sekolah dapat mengelola seluruh aktifitasnya
bersama warga sekolah menurut kondisi masyarakatnya masing-masing. Karena
rumitnya job deskription sekolah saat ini dan adanya perbedaan-perbedaan yang ringkas
antara sekolah satu dengan yang lainnya, contoh nyatanya adalah perbedaan input
peserta didik, sarana prasarana dan situasi akademik sekolah, sekolah tidak bisa
dijalankan dengan struktur yang sama di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara.
Pendidikan sebagai komunitas yang sangat fleksibel dan terbuka terhadap
berbagai perubahan yang terus berkembang. Oleh itu, tidak diragukan lagi bila
sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya.
Tantangan tersebut harus dijawab dengan tuntas oleh sekolah. Sekolah harus
mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling
tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Walaupun sekolah satu
mungkin memiliki masalah yang sama, cara penyelesaiannya akan berbeda antara
sekolah satu dengan sekolah yang lainnya.
2.
Decentralization
Desentralisasi
adalah gejala yang penting dalam perubahan suatu sistem manajemen sekolah
modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas (suatu
tujuan yang dapat dicapai dengan berbagai cara). Prinsip desentralisasi
dilKitasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran
tak dapat dielekakan dari kesultian dan permasalahan. Pendidikan memerlukan
desentralisasi dalam pelaksanaannya karena dalam pendidikan terdapat masalah
yang rumit dan kompleks. Prinsip ekuifinalitas mempersilahkan sekolah memiliki
ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut
strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara
efektif.Sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan
memecahkan masalahnya sendiri, secara efektif dan seevisien mungkin ketika
masalah itu muncul. Dengan kata lain, tujuan prinsip desentralisasi adalah
efisiensi dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah. Oleh karena itu,
manajemen sekolah bermutu harus mampu menemukan masalah, memecahkannya tepat
waktu dan memberi sumbangan yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran
dan pembelajaran. Jika tidak ada desentralisasi, kewenangan sekolah tidak dapat
dilakspeserta didikan dan akan berakibat terlambatnya pemecahan masalah secara
cepat, tepat, dan efisien.
3.
Self-Management
System
Manajemen sekolah yang
bermutu perlu mencapai tujuan yang sudah di berikan kebijakan yang telah
ditetapkan, tetapi di dalam nya terdapat berbagai metode-metode yang berbeda-beda
dalam mencapainya. Manajemen sekolah yang bermutu harus menyadari betapa
pentingnya mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri di
bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi (kewenangan untuk mengatur
sendiri kepentingan masyarakat atau kepentingan untuk membuat aturan guna
mengurus daerah nya sendiri) untuk mengembangkan tujuan pengajaran strategi
manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, memecahkan
masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka masing-masing sesuai
dengan SDM (Sumber Daya Manusia) dan kemampuannya. Sekolah harus lebih memiliki
inisiatif dan tanggung jawan sendiri karena sekolah dikelola secara mandiri.
Prinsip ini dikaitkan dengan prinsip sebelumnya, yaitu tentang prinsip
ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Bila sekolah telah terjadi pelimpahan
wewenang dari biokrasi di atasnya ke tingkat sekolah maka sekolah dapat
menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan adanya kewenangan tersebut, maka
sekolah dapat melakukan sistem pengelolaan mandiri.
4.
Human
Initiative
Perspektif sumber
daya manusia menekankan bahwa, orang adalah sumber daya berharga di dalam
organisasi sehingga poin utama manajemen adalah mengembangkan sumber daya
manusia di dalam sekolah untuk berinisiatif. Berdasarkan perspektif ini maka
Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga
sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh
karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan
aspek sumber daya manusianya. Prinsip Human Initiative mengakui bahwa,
manusia bukanlah sumber daya yang statis melainkan sumber daya yang dinamis.
Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan,
dan kemudian dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak
dapat lagi menggunakan istilah staffing yang konotasinya hanya mengelola
manusia sebagai barang yang statis. Lembaga pendidikan harus menggunakan
pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis dan aset
yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar