Rabu, 21 April 2021

Konsep Manajemen Sekolah

 

Nama               : Salsabila

Nim                 : 11901229

Kelas               : PAI 4C

Mata Kuliyah  : Magang

 

Konsep Manajemen Sekolah

    A.            Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan perdebatan dan penjelasan yang berbeda-beda dalam penggunaan istilah manajemen. Contoh nya di dalam satu pihak ada yang menggunakan istilah manajemen, sehingga pengertian ini dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak lagi, menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal dengan istilah administrasi pendidikan.

Pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli :

a.       Yang pertama Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995). Beliau memberikan rumusan, bahwa :

“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu : 1.) Planning (merencanakan), 2.) Organizing (mengorganisasi), 3.) Leading (memimpin), dan Controlling (mengendalikan). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sedangkan dari para ahli yang lain yaitu Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995).

Beliau mengemukakan, bahwa : “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.

b.        Yang kedua secara khusus dalam konteks pendidikan, Dari Djam’an Satori (1980), beliau memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama denganmemanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”.
Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

Meski banyak ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam-ragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara mendasar dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa Manajemen Pendidikan : (1) Merupakan suatu kegiatan; (2) Memanfaatkan berbagai sumber daya (3) Berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

     B.            Fungsi Manajemen Sekolah

Secara umum ada empat fungsi manajemen yang dikenali oleh banyak masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Di dalam fungsi pengorganisasian terdapat fungsi pembentukan staf (staffing).

Menurut para ahli, Yamin dan Maisah (2009:2) beliau mengemukakan, Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, yaitu “perencanaan” (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).

    C.            Prinsip Manajemen Sekolah

Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan, dan kegiatan yang dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini menurut H. Siagian mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:

1)      Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning atau disebut juga dengan perencanaan, kedua organizing atau yang di sebut pengorganisasian, ketiga actuating atau disebut dengan pelaksanaan dan yang ke empat adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

2)      Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : yang pertama adalah planning atau perencanaan, yang kedua organizing atau di sebut dengan pengorganisasian, yang ketiga adalah commanding atau disebut pengaturan, keempat adalah coordinating pengkoordinasian dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

3)      Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, yang mencakup : yang pertama adalah planning atau yang di sebut dengan perencanaan, yang kedua adalah organizing atau disebut dengan pengorganisasian, yang ketiga staffing atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing atau disebut dengan pengarahan dan yang kelima adalah controlling atau disebut dengan pengawasan.

4)      Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu : yang pertama adalah planning atau disebut dengan perencanaan, yang kedua organizing atau disebut dengan pengorganisasian, yang ketiga staffing atau disebut dengan penentuan staf, yang keempat directing atau disebut dengan pengarahan, yang kelima coordinating atau disebut dengan pengkoordinasian, yang keenam reporting atau disebut dengan pelaporan, dan yang ketujuh budgeting atau disebut dengan penganggaran

Dalam merencanakan pengembangan sekolah perlu adanya Teori dan konsep yang matang dan terencana untuk digunakan dalam mengelola sekolah. Pengembangan sekolah tersebut didasarkan pada empat prinsip, yaitu:

1.      Equifinality

Perencanaan yaitu merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai, beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa : “ Perencanaan atau yang disebut juga dengan planningcadalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini”. Arti penting dari perencanaan adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga dalam setiap kegiatan dapat diusahakan dan dapat dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko juga mengemukakan sembilan manfaat perencanaan yaitu: yang pertama adalah membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan, yang kedua membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama, yang ketiga memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran, yang keempat membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, yang kelima memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi, yang keenam memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi, yang ketujuh membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami, yang kedelapan meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, dan yang kesembilan menghemat waktu, usaha dan dana.

Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996), beliau mengemukakan langkah-langkah pokok perencanaan, yaitu :

a)      Penentuan tujuan yaitu dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : yang pertama menggunakan kata-kata yang sederhana, yang kedua mempunyai sifat fleksibel, yang ketiga mempunyai sifat stabilitas, yang keempat ada dalam perimbangan sumber daya, dan yang kelima meliputi semua tindakan yang diperlukan.

b)      Pendefinisian gabungan situasi secara baik: pendefisian gabungan situasi ini meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

c)      Merumuskan kegiatan yang dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal yang sama juga dikemukakan oleh T. Hani Handoko (1995), beliau mengemukakan bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : yang pertama  menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, yang kedua merumuskan keadaan saat ini, yang ketiga mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, yang keempat mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Prinsip Equifinality ini mengambil teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda dalam pencapaian tujuan. Manajemen sekolah bermutu lebih menekankan fleksibilitas. Untuk itu sekolah dapat mengelola seluruh aktifitasnya bersama warga sekolah menurut kondisi masyarakatnya masing-masing. Karena rumitnya job deskription sekolah saat ini dan adanya perbedaan-perbedaan yang ringkas antara sekolah satu dengan yang lainnya, contoh nyatanya adalah perbedaan input peserta didik, sarana prasarana dan situasi akademik sekolah, sekolah tidak bisa dijalankan dengan struktur yang sama di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara. Pendidikan sebagai komunitas yang sangat fleksibel dan terbuka terhadap berbagai perubahan yang terus berkembang. Oleh itu, tidak diragukan lagi bila sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya. Tantangan tersebut harus dijawab dengan tuntas oleh sekolah. Sekolah harus mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Walaupun sekolah satu mungkin memiliki masalah yang sama, cara penyelesaiannya akan berbeda antara sekolah satu dengan sekolah yang lainnya.

 

2.      Decentralization

Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam perubahan suatu sistem manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas (suatu tujuan yang dapat dicapai dengan berbagai cara). Prinsip desentralisasi dilKitasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak dapat dielekakan dari kesultian dan permasalahan. Pendidikan memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya karena dalam pendidikan terdapat masalah yang rumit dan kompleks. Prinsip ekuifinalitas mempersilahkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.Sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan memecahkan masalahnya sendiri, secara efektif dan seevisien mungkin ketika masalah itu muncul. Dengan kata lain, tujuan prinsip desentralisasi adalah efisiensi dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah. Oleh karena itu, manajemen sekolah bermutu harus mampu menemukan masalah, memecahkannya tepat waktu dan memberi sumbangan yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran dan pembelajaran. Jika tidak ada desentralisasi, kewenangan sekolah tidak dapat dilakspeserta didikan dan akan berakibat terlambatnya pemecahan masalah secara cepat, tepat, dan efisien.

3.      Self-Management System

Manajemen sekolah yang bermutu perlu mencapai tujuan yang sudah di berikan kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi di dalam nya terdapat berbagai metode-metode yang berbeda-beda dalam mencapainya. Manajemen sekolah yang bermutu harus menyadari betapa pentingnya mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi (kewenangan untuk mengatur sendiri kepentingan masyarakat atau kepentingan untuk membuat aturan guna mengurus daerah nya sendiri) untuk mengembangkan tujuan pengajaran strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka masing-masing sesuai dengan SDM (Sumber Daya Manusia) dan kemampuannya. Sekolah harus lebih memiliki inisiatif dan tanggung jawan sendiri karena sekolah dikelola secara mandiri. Prinsip ini dikaitkan dengan prinsip sebelumnya, yaitu tentang prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Bila sekolah telah terjadi pelimpahan wewenang dari biokrasi di atasnya ke tingkat sekolah maka sekolah dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan adanya kewenangan tersebut, maka sekolah dapat melakukan sistem pengelolaan mandiri.

4.      Human Initiative

Perspektif sumber daya manusia menekankan bahwa, orang adalah sumber daya berharga di dalam organisasi sehingga poin utama manajemen adalah mengembangkan sumber daya manusia di dalam sekolah untuk berinisiatif. Berdasarkan perspektif ini maka Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya. Prinsip Human Initiative mengakui bahwa, manusia bukanlah sumber daya yang statis melainkan sumber daya yang dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudian dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak dapat lagi menggunakan istilah staffing yang konotasinya hanya mengelola manusia sebagai barang yang statis. Lembaga pendidikan harus menggunakan pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis dan aset yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar