Rabu, 14 April 2021

KULTUR SEKOLAH

Nama                           : Salsabila

Nim                             : 11901229

Kelas                           : PAI 4C

Mata Kuliyah              : Magang

KULTUR SEKOLAH

    A.            Pengertian Kultur Sekolah

Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris yaitu “culture” yang disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Menurut Antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, 2003: 72).  Kultur mencakup cara berfikir , perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak yang diakui oleh kelompok masyarakat. Oleh karena itu, kultur akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Lembaga utama yang didesain untuk memperlancar transmisi kultural antar generasi yaitu sekolah (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Kebudayaan juga milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya, dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang di hadapi tidak selamanya sama, maka setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Masing-masing sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.

“Keunikan” dalam budaya sekolah inilah yang membedakan pengalaman dalam budaya sekolah. Dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, selain itu juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74). Budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Selain itu juga budaya sekolah mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan, tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.

Sekolah yaitu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai, sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).

Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Kalau definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi.

Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan, kultur sekolah adalah pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil, baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.

Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.

 

     B.            Karakteristik Kultur Sekolah

Diharapkan dari kultur sekolah yaitu supaya memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Kultur sekolah sehat bila memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal,energik, bekerja secara efisien, semangat tinggi dan mampu terus berkembang. Dampak sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya di akibatkan keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika masalah ini ditangani dengan bijak dan sehat, bisa membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Macam-macam kultur oleh Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1.      Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

a)      Semangat membaca dan mencari referensi

b)      Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup

c)      Kecerdasan emosional siswa

d)      Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis

e)      Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis

 

2.      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

a)      Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan

b)      Nilai-nilai keterbukaan

c)      Nilai-nilai kejujuran

d)      Nilai-nilai semangat hidup

e)      Nilai-nilai semangat belajar

f)       Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain

g)      Nilai-nilai untuk menghargai orang lain

h)      Nilai-nilai persatuan dan kesatuan

i)       Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif

j)       Nilai-nilai disiplin diri

k)      Nilai-nilai tanggung jawab

l)       Nilai-nilai kebersamaan

m)   Nilai-nilai saling percaya

n)      Nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

 

    C.            Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. 1.) Sebagian dapat diamati dan sebagian tidak, seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya itu berupa norma-norma kelompok atau cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah, biasanya disebut artifak. 2.) Nilai-nilai bersama yang dianut kelompok, itu berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak bisa diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama.

Stolp dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 8-10) membagi tiga tempat lapisan kultur yaitu artifak (di permukaan), nilai-nilai keyakinan (di tengah), dan asumsi (di dasar). Pengertian Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati seperti aneka hal ritual sehari-hari di sekolah, upacara , benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur dengan cepat dirasakan ketika mengadakan kontrak dengan suatu sekolah.  Asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus berdampak terhadap perilaku warga sekolah adalah lapisan terdalam dalam kultur sekolah.

 

    D.            Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah

Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152) adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah.  Kinerja sekolah meliputi kinerja siswa yaitu hasil belajar atau perilaku belajar, disiplin, motivasi, daya saing dan kerja sama, kemampuan berprakarsa dan memperhitungkan resiko, sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi anak didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: (1) hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.

Suyanto & Abbas (2001: 114) mengemukakan, lembaga pendidikan yang selama ini kepar menjadi sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan adalah sekolah.

Zamroni (2000: 147) mengemukakan, sekolah memiliki tiga aspek pokok suatu sistem yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah yakni, proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga aspek pokok tersebut. Selama ini secara konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan belum dilakukan dengan sistematis (mencakup ketiga aspek tersebut).  Sasaran dari upaya yang selama ini dilakukan dengan menyediakan dana bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku teks dan pengadaan fasilitas lainnya hanya menyentuh aspek proses belajar mengajar dan kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan ternyata hal ini tidaklah menghasilkan sebagaimana yang diinginkan. Agar mutu meningkat, selain dilakukan secara konvensional sebagaimana selama ini telah dilakukan perlu diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional, yakni melalui pengembangan kutur sekolah. Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai kultur yang bersifat racun (toxic) yaitu yang besifat menganggu dan menyimpang dari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari beroperasinya sekolah.

 

     E.            Implikasi Kultur Sekolah Dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson (1999) memperluas kajiannya yang menunjukkan kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Deskripsi aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah yaitu :

1.      Visi (Vision) dan Nilai (Values).

Berdasarkan definisi Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) , visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.  Dan berdasarkan definisi Menurut (Kluckhohn dalam Enz, 1986), Nilai secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan: Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.

Menurut Parsons & Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: komponen kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi. Sedangkan nilai instrumental adalah nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

 

     F.            Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Tiap-tiap sekolah memiliki kultur sekolah dan masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2001). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Suyanto & Abbas, M.S. (2001). Wajah dan dinamika pendidikan anak bangsa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Zamroni. (2000). Paradigma pendidikan masa depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing. _______. (2001). Pendidikan untuk demokrasi (tantangan menuju civil society). Yogyakarta: Bigraf Publishing

Deal, Terrence E. & Peterson, Kent D. 1998. “How Leaders Influence the Culture of Schools?”. Educational Leadership, Sept. 1998, Vol. 56, Number 1, Pages 28-30. ------------------. 1999. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco: Jossey[1]Bass Publishers. ------------------. 2011. Shaping School Culture: Pitfals, Paradoxes, & Promises. San Fransisco: Jossey-Bass.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar