Nama : Salsabila
Nim : 11901229
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliyah :
Magang
KULTUR
SEKOLAH
A.
Pengertian
Kultur Sekolah
Istilah
kultur berasal dari bahasa Inggris yaitu “culture” yang disinonimkan
dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterjemahkan
sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Menurut Antropologi, kebudayaan
adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan
manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar
(Koentjaraningrat, 2003: 72). Kultur mencakup
cara berfikir , perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik
maupun abstrak yang diakui oleh kelompok masyarakat. Oleh karena itu, kultur akan
diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Lembaga utama yang
didesain untuk memperlancar transmisi kultural antar generasi yaitu sekolah (Ariefa
Efianingrum, 2009: 21). Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah sebagai
keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk
memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi
landasan bagi tingkah-lakunya. Kebudayaan juga milik bersama anggota suatu
masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya
dan pewarisannya kepada generasi berikutnya, dilakukan melalui proses belajar
dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan
maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Pengalaman
dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang di hadapi
tidak selamanya sama, maka setiap anggota masyarakat mempunyai suatu
pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota
lainnya Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Masing-masing sekolah
memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama
dalam membangun budaya sekolah.
“Keunikan”
dalam budaya sekolah inilah yang membedakan pengalaman dalam budaya sekolah. Dikarenakan
ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, budaya sekolah
menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, selain
itu juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung
kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009:
74). Budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dinamika kultur sekolah yang tetap
menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah,
dan realitas sosial. Selain itu juga budaya sekolah mempengaruhi kecepatan
sekolah dalam merespon perubahan, tergantung kemampuan sekolah dalam merancang
pelayanan sekolah.
Sekolah
yaitu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial
di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Untuk merumuskan pola kultur
sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai, sekolah dapat
bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat (Ariefa
Efianingrum, 2007: 51).
Deal
dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3)
mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama
yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Kalau
definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur
dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi.
Stolp
dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan, kultur sekolah adalah pola
asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia
belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil, baik serta dianggap valid dan
akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam
memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.
Schein
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah
adalah pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu
kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil
baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai
cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah
tersebut.
B.
Karakteristik
Kultur Sekolah
Diharapkan
dari kultur sekolah yaitu supaya memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah
dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif,
positif, dan profesional. Kultur sekolah sehat bila memberikan peluang
sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal,energik, bekerja secara
efisien, semangat tinggi dan mampu terus berkembang. Dampak sifat
dinamika kultur sekolah tidak hanya di akibatkan keterkaitan kultur sekolah
dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut.
Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika masalah
ini ditangani dengan bijak dan sehat, bisa membawa perubahan yang positif
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Macam-macam
kultur oleh Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas :
a)
Semangat
membaca dan mencari referensi
b)
Keterampilan
siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup
c)
Kecerdasan
emosional siswa
d)
Keterampilan
komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis
e)
Kemampuan
siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis
2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :
a)
Nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan
b)
Nilai-nilai
keterbukaan
c)
Nilai-nilai
kejujuran
d)
Nilai-nilai
semangat hidup
e)
Nilai-nilai
semangat belajar
f)
Nilai-nilai
menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain
g)
Nilai-nilai
untuk menghargai orang lain
h)
Nilai-nilai
persatuan dan kesatuan
i)
Nilai-nilai
untuk selalu bersikap dan berprasangka positif
j)
Nilai-nilai
disiplin diri
k)
Nilai-nilai
tanggung jawab
l)
Nilai-nilai
kebersamaan
m)
Nilai-nilai
saling percaya
n)
Nilai-nilai
yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003: 25-26).
C.
Identifikasi
Kultur Sekolah
Kotter
dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan
gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. 1.) Sebagian dapat diamati
dan sebagian tidak, seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior,
kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara,
ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan
santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal
yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai
dengan segera. Lapisan pertama budaya itu berupa norma-norma kelompok atau cara
tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah,
biasanya disebut artifak. 2.) Nilai-nilai bersama yang dianut kelompok, itu berhubungan
dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak bisa diamati karena
terletak di dalam kehidupan bersama.
Stolp
dan Smith dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 8-10)
membagi tiga tempat lapisan kultur yaitu artifak (di permukaan), nilai-nilai
keyakinan (di tengah), dan asumsi (di dasar). Pengertian Artifak adalah lapisan
kultur sekolah yang paling mudah diamati seperti aneka hal ritual sehari-hari
di sekolah, upacara , benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam
kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur dengan cepat dirasakan
ketika mengadakan kontrak dengan suatu sekolah. Asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai
dan keyakinan-keyakinan yang tidak dapat dikenali tetapi terus menerus
berdampak terhadap perilaku warga sekolah adalah lapisan terdalam dalam kultur
sekolah.
D.
Peran
Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah
Kinerja
sekolah (Depdiknas, 2001: 152) adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau
perilaku sekolah. Kinerja sekolah
meliputi kinerja siswa yaitu hasil belajar atau perilaku belajar, disiplin,
motivasi, daya saing dan kerja sama, kemampuan berprakarsa dan memperhitungkan
resiko, sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Output sekolah dapat
dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi anak
didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: (1) hasil tes kemampuan
akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi di bidang
nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.
Suyanto
& Abbas (2001: 114) mengemukakan, lembaga pendidikan yang selama ini kepar menjadi
sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang
cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan adalah sekolah.
Zamroni
(2000: 147) mengemukakan, sekolah memiliki tiga aspek pokok suatu sistem yang
sangat berkaitan dengan mutu sekolah yakni, proses belajar mengajar,
kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk
peningkatan kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga aspek pokok
tersebut. Selama ini secara konvensional upaya peningkatan mutu pedidikan belum
dilakukan dengan sistematis (mencakup ketiga aspek tersebut). Sasaran dari upaya yang selama ini dilakukan
dengan menyediakan dana bagi pelaksanaan pelatihan, penyediaan buku teks dan
pengadaan fasilitas lainnya hanya menyentuh aspek proses belajar mengajar dan
kepemimpinan/manajemen sekolah. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah
dilakukan ternyata hal ini tidaklah menghasilkan sebagaimana yang diinginkan.
Agar mutu meningkat, selain dilakukan secara konvensional sebagaimana selama
ini telah dilakukan perlu diiringi pula dengan pendekatan inkonvensional, yakni
melalui pengembangan kutur sekolah. Kecuali itu sekolah juga perlu mewaspadai
kultur yang bersifat racun (toxic) yaitu yang besifat menganggu dan menyimpang
dari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari beroperasinya
sekolah.
E.
Implikasi
Kultur Sekolah Dalam Perbaikan Sekolah
Deal & Peterson
(1999) memperluas kajiannya yang menunjukkan kultur berpengaruh terhadap
berjalannya fungsi sekolah. Deskripsi aspek-aspek kultur sekolah yang
berpengaruh terhadap fungsi sekolah yaitu :
1.
Visi (Vision)
dan Nilai (Values).
Berdasarkan definisi
Kouzes dan Posner (Locke, et.al. 1991) , visi merupakan citra ideal dan unik
tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang
dicita-citakan. Dan berdasarkan definisi
Menurut (Kluckhohn dalam Enz, 1986), Nilai secara sosiologis/antropologis,
dapat didefinisikan: Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan
persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi.
Menurut Parsons
& Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: komponen kognitif, emosional,
dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua
kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik adalah
nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi. Sedangkan nilai
instrumental adalah nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya
produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang
penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai
yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan
sekolah.
F.
Aneka
Praktik Pengembangan Kultur Sekolah
Tiap-tiap sekolah
memiliki kultur sekolah dan masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan
dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di
sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat
disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing
sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Sejumlah sekolah
lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi
akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik.
Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan
pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang
bervariasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas. (2001). Manajemen peningkatan mutu
berbasis sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat
Pendidikan Menengah Umum.
Suyanto & Abbas, M.S. (2001). Wajah dan
dinamika pendidikan anak bangsa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Zamroni. (2000). Paradigma pendidikan masa
depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing. _______. (2001). Pendidikan untuk
demokrasi (tantangan menuju civil society). Yogyakarta: Bigraf Publishing
Deal, Terrence E. & Peterson, Kent D.
1998. “How Leaders Influence the Culture of Schools?”. Educational Leadership,
Sept. 1998, Vol. 56, Number 1, Pages 28-30. ------------------. 1999. Shaping
School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco: Jossey[1]Bass
Publishers. ------------------. 2011. Shaping School Culture: Pitfals,
Paradoxes, & Promises. San Fransisco: Jossey-Bass.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar